PT. Rifan Financindo Berjangka News

Basri ditangkap, Santoso tewas, bagaimana radikalisme di Poso?

15 Sep 2016 - 08:58 WIB

Bagaimana radikalisme di Poso setelah Santoso tewas dan Basri ditangkap? | PT Rifan Financindo Berjangka 

Penangkapan Basri, ‘tangan kanan’ sekaligus salah satu buronan paling dicari dari kelompok Santoso, disebut semakin memperlemah kelompok yang menamakan diri mereka Mujahidin Indonesia Timur (MIT).

Berdasarkan pantauan Mansur, wartawan di Poso yang hadir pada pemakaman Santoso di Kecamatan Poso Pesisir Juli (23/07) lalu, ‘ada sekitar seribuan simpatisan Santoso’.

“Mereka ini melakukan pawai. (Waktu Santoso dikuburkan) suara takbir dikumandangkan keras. Suasananya, kalau hadir langsung, itu mencekam,” tutur Mansur yang merupakan seorang wartawan televisi.

Dia mengaku dilarang mengambil gambar terlalu detail ke wajah simpatisan. “Mereka pakai tutup muka semua.”

Namun, seorang pengamat terorisme mencemaskan radikalisme kelompok Santoso, yang tewas dalam operasi militer Juli (18/07) lalu, sudah sempat tertanam di sebagian warga Poso dan sekitarnya.

“Ini tergambar dari warga yang datang menghadiri pemakaman Santoso. Tampak jelas jumlah warga yang simpati kepada Santoso cukup banyak,” ungkap pengamat terorisme, Solahudin

Solahudin mengungkapkan alasan adanya simpatisan warga lokal itulah yang membuat MIT, yang dideklarasikan Santoso pada 2012, masih bisa bertahan di Poso.

Menurutnya, bantuan logistik yang terus mengalir kepada MIT ’sebagian berasal dari masyarakat Poso’.

“Saat itu kan aparat pemerintah absen di Poso, tidak bisa memberikan perlindungan kepada umat Islam. Nah, muncul Santoso yang memberikan perlindungan,” papar Solahudin.

“Sehingga banyak warga Poso yang melihat Santoso sebagai pahlawan, sampai sekarang, meskipun yang dia lakukan adalah tindak pidana terorisme,” katanya.

Ia mengungkapkan besarnya simpati kepada kelompok Santoso, bisa ditarik ke konflik komunal di Poso yang terjadi sekitar tahun 2000.

Ketika ditanya apakah ini berarti Polri menilai tidak ada paham radikalisme kelompok Santoso yang diikuti masyarakat Poso, Boy menjawab, “Kayaknya sih”.

Basri, tokoh kelompok teroris MIT, ditangkap Satuan Tugas (Satgas) Tinombala, Rabu (14/09), hampir secara kebetulan sesudah anak buahnya, Andika, ditemukan tewas karena hanyut di Sungai Puna, Poso.

Laki-laki yang disebut Polri ditangkap tanpa perlawanan ini adalah pengganti Santoso, setelah pucuk pimpinan kelompok yang berbaiat ke ISIS itu tewas.

Dengan ditangkapnya Basri dan tewasnya Andika, Boy Rafli menyebut ‘anggota jaringan tersebut sekarang tinggal 12 orang, dengan lima atau enam pucuk senjata api’.

Namun, Kepala Divisi Humas Polri, Irjen (Pol.) Boy Rafli Amar, menepis besarnya dukungan masyarakat Poso kepada MIT. Boy membantah banyaknya simpatisan yang hadir pada pemakaman Santoso.

“Nggak. Mereka itu warga (biasa), ingin lihat-lihat saja. Biasa kan, namanya di kampung, banyak kegiatan yang bisa jadi perhatian masyarakat. Apalagi mereka pernah kenal Santoso,” tutur Boy Rafli 

Polri pun menyatakan Satgas Tinombala, yang dibentuk sejak Januari 2016 untuk menumpas jaringan terorisme di Poso, akan terus dikerahkan untuk menangkap seluruh anggota MIT yang tersisa.

Namun, pengamat terorisme Solahudin menegaskan hard approach (melalui operasi militer) tidak akan menyelesaikan akar masalah terorisme.
“Yang akan menyelesaikan masalah itu adalah soft approach,” katanya.

Dengan kondisi jumlah anggota dan logistik itu, Polri mengklaim MIT ’semakin lemah’.

Meskipun masih ada satu pimpinan pengganti Santoso yang belum ditangkap, yaitu Ali Kalora, Boy Rafli menilai, ‘penangkapannya tinggal menunggu waktu saja’.

Solahudin menjelaskan strategi yang dimaksudnya itu terkait dengan deradikalisasi, tetapi tidak hanya kepada narapidana terorisme.

“(Juga) kontra radikalisme, berupa kampanye kepada orang-orang yang belum atau berpotensi terpapar, supaya tidak benar-benar menjadi radikal,” pungkasnya.

Istri Anak Buah Santoso Ditangkap Saat Terjebak di Sungai | PT Rifan Financindo Berjangka 

Basri ditangkap setelah tim gabungan TNI dan Polri yang masuk dalam Satuan Tugas (Satgas) Operasi Tinombala melakukan patroli di seputaran wilayah Dusun Gantinadi. Saat tengah melakukan patroli kemudian melihat orang yang tidak dikenal, dari situ langsung dilakukan pendekatan dan penangkapan.

Basri dan istrinya tersebut diketahui memang selalu bersama. Setelah Basri ditangkap, Satgas langsung melakukan penyisiran hingga akhirnya berhasil menangkap Nurmi.

Selain menangkap anak buah mendiang Santoso Basri alias Bagong, ternyata istrinya yang bernama Nurmi Usman alias Oma juga turut diciduk oleh personil Satgas Tinombala. Saat ini, istri Basri itu telah dievakuasi ke RS Bhayangkara guna menjalani pemeriksaan kesehatan.

“Baru tiba di RS Bhayangkara tadi istri Basri,” kata Kabid Humas Polda Sulteng, AKBP Hari Suprapto di Palu, Sulawesi Tengah, Rabu (14/9/2016) malam.

Saat ditangkap, Nurmi tidak melakukan perlawanan sedikit pun. Selain itu, waktu ditangkap Nurmi tidak membawa senjata atau benda-benda berbahaya seperti bom yang biasanya melekat dalam perjalanan Santoso dan para anak buahnya.

“Mereka berdua hanya pasrah ditangkap. Langsung dievakuasi,” tandas Hari.

Hingga saat ini, Nurmi masih diperiksa di RS Bhayangkara. Polda sendiri baru akan melakukan penyidikan lebih lanjut pasca kesehatan Nurmi dianggap benar-benar pulih.

Menurut Hari, Nurmi ditangkap tidak jauh dari lokasi penangkapan Basri di Sungai Puna, Dusun Gantinadi, Desa Tangkura, Kecamatan Poso Pesisir Selatan, Kabupaten Poso.

“Setelah Basri ditangkap, Satgas kemudian melakukan penyisiran dan menemukan Nurmi terjebak di dalam sungai, dari situ langsung dilakukan penangkapan,” terang Hari.

Basri Ditangkap, Pengamat Ingatkan Terorisme “Patah Tumbuh Hilang Berganti” | PT Rifan Financindo Berjangka 

Peneliti dari Institute for Security and Strategic Studies (ISSESS), Khairul Fahmi, mengatakan tertangkapnya Basri yang menjadi pemimpin kelompok teroris Mujahiddin Indonesia Timur (MIT) pengganti Santoso bisa dikatakan awal dari kehancuran kelompok yang beroperasi di wilayah Poso Sulawesi Tengah tersebut.

“Ini yang harus diwaspadai. Dari dalam negeri, jejaring itu tetap lebih terkonsentrasi di Jawa dan Nusa Tenggara. Ini yang masih berpotensi aktif dan berkiprah di luar Poso,” katanya.

Oleh karena itu, Fahmi berpandangan ke depan polisi harus memerhatikan wilayah Nusa Tenggara. Pasalnya secara emosional kelompok Santoso dekat dengan daerah ini.

“Meski bukan berarti mengendorkan di Jawa. Karena bagaimanapun target dan kantong-kantong simpatisan lebih besar di sini (Nusa Tenggara). Sebagian besar mereka belum tertangkap dan peluangnya berkembang sangat besar jika pola penanggulangan terorisme kita masih seperti sekarang,” tukasnya.

“Kelompok Poso ini, pasca-Santoso tewas, tampaknya memang sudah kesulitan konsolidasi. Karena rapatnya gerakan pasukan Operasi Tinombala, akses mereka dengan dunia luar boleh dikata tertutup,” kata Fahmi

Kendati demikian, ia menganalisis jejaring yang selama ini berinteraksi dengan kelompok MIT terkait komunikasi, suplai logistik, dan personel masih aktif di luar Poso.

 

 

PT Rifan Financindo Berjangka 


TAGS   news / nasional / peristiwa / teroris /


Author

Recent Post

Recent Comments

Categories

Archive