PT. Rifan Financindo Berjangka News

Fahri Hamzah Anggap Wajar Jika Duterte Beri “Lampu Hijau” Eksekusi Mar

13 Sep 2016 - 11:22 WIB

Rodrigo Duterte mempersilakan Pemerintah Indonesia mengeksekusi mati terpidana mati Mary Jane | PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Jakarta STC

Mary Jane divonis mati pada bulan Oktober 2010 oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Sleman, Yogyakarta.

Berita soal pernyataan eksekusi Mary Jane yang disampaikan Presiden Jokowi ini banyak didukung oleh pengguna media sosial Filipina.

“Kita harus menghargai hukum negara-negara lain, bila kita ingin mereka menghargai kita,” ujar Ezen Tilanduca di Facebook dan mendapat dukungan ratusan kali melalui media online Filipina Inquirer.net.

“Kita semua sama di mata hukum, walaupun Anda punya cerita sedih atau tidak, apakah Anda kaya atau tidak,” tulis Ezen, “Mary Jane melanggar hukum negara lain. Sangat ironis bila Duterte berkampanye menentang norkoba atas seseorang yang melanggar hal penting terkait obat bius. Hukum adalah hukum,” ujar pengguna Facebook lainnya Ezen Tilanduca.

Di bawah pemerintahan Joko Widodo, tiga gelombang eksekusi mati telah dijalankan terhadap pelaku perdagangan obat bius, sebagian besar adalah warga asing.

Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah menganggap wajar jika Presiden Filipina Rodrigo Duterte mempersilakan Pemerintah Indonesia mengeksekusi mati terpidana mati Mary Jane Veloso.

Sebab, Filipina dengan keras menyatakan perang terhadap narkotika di dalam negeri.

“Mustahil kalau di Indonesia meminta agar Mary Jane diselamatkan. Dia sudah perang, sudah tahan ribuan orang di negaranya enggak mungkin di sini membiarkan,” kata Fahri di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (13/9/2016).

Oleh karena itu, jika dasar hukum sudah jelas, lanjut Fahri, seharusnya tak ada lagi keraguan untuk segera mengeksekusi mati Mary Jane.

“Kalau sudah jelas, ya eksekusi lah. Supaya orang enggak menunggu-nunggu tidak jelas nasibnya,” tuturnya.

Mary Jane dijadwalkan menjalani eksekusi pada April tahun lalu bersama delapan terpidana narkoba di Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah.

Namun eksekusi tidak dilaksanakan menyusul permintaan Presiden Filipina saat itu, Benigno Aquino.

Penundaan dilakukan karena seorang terduga pengedar narkoba menyerahkan diri dan mengklaim Mary Jane hanyalah seorang kurir.

Presiden Joko Widodo sebelumnya mengakui telah berdiskusi dengan Presiden Filipina Rodrigo Duterte terkait nasib terpidana mati asal Filipina, Mary Jane Fiesta Veloso.

“Saya sampaikan tentang Mary Jane dan saya bercerita bahwa Mary Jane itu membawa 2,6 kilogram heroin,” kata Jokowi seperti dikutip dari setkab.go.id, Senin (12/9/2016).

Jokowi juga mengaku bercerita mengenai penundaan eksekusi terhadap Mary Jane, April lalu.

Namun, Presiden Duterte justru mempersilakan Pemerinah Indonesia untuk mengeksekusinya.

“Presiden Duterte saat itu menyampaikan silakan kalau mau dieksekusi,” kata Jokowi.

Namun, Kementerian Luar Negeri Filipina pada Selasa pagi memberi keterangan bahwa Duterte belum memberi lampu hijau terkait eksekusi tersebut.

“Presiden Duterte tidak memberi “lampu hijau” atas eksekusi Veloso namun menyatakan presiden akan menerima ‘keputusan akhir’ terkait kasus Mary Jane,” demikian pernyataan Menlu Filipina Perfecto R Yasay lewat akun resmi dan media sosial.

Nestapa Terpidana Mati Mary Jane | PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Jakarta STC

 

Presiden Filipina Rodrigo Duterte membantah tidak memberikan sinyal ‘lampu hijau’ atas eksekusi terpidana mati Mary Jane Veloso.

Pernyataan Duterte yang disampaikan melalui Kementerian Luar Negeri Filipina ini menyanggah ucapan Presiden Joko Widodo atau Jokowi usai perayaan Idul Adha di Serang, Banten.

“Presiden Duterte tidak memberi apa yang disebut ‘lampu hijau’ atas eksekusi Veloso, namun menyatakan bahwa Presiden akan menerima ‘keputusan akhir’ terkait kasus Mary Jane,” kata Menteri Luar Negeri FIlipina Perfecto R Yasay Jr seperti dilansir BBC, Senin 12 September 2016.

Nasib Mary Jane masih terkatung-katung. Walaupun, setidaknya, dia tidak harus berhadapan dengan regu penembak jitu dalam waktu dekat.

Tak terhitung air mata yang telah dicurahkannya. Berharap eksekusi matinya tidak akan pernah dilakukan.

Air matanya terus mengalir ketika Pastor Bernhard Kieser dari Gereja St Antonius Kotabaru mengajak berdoa saat menjadi saksi dalam persidangan.

Pastur meminta izin kepada Hakim Ketua Marliyus MS untuk berdoa bersama dengan Mary Jane. Romo Bernhard lalu membimbing Mary Jane berdoa dalam Bahasa Indonesia.

Saat pembacaan doa itulah ibu 2 anak ini menangis tersedu-sedu sembari berusaha terus mengucapkan doa-doa yang dibimbing pastor.

“Doa Bapa Kami. Ampunilah kami, seperti mana pun kami mengampuni yang bersalah kepada kami, jangan masukkan kami ke dalam percobaan,” doa Mary Jane di Pengadilan Negeri Sleman.

Namun, Jaksa Agung M Prasetyo menegaskan Mary Jane tetap akan dieksekusi ketika proses hukum di Filipina selesai.

“Semua hak hukum sudah diberikan. Bahwa sekarang ini masih belum dieksekusi karena kami masih menghormati dan menghargai proses hukum yang dilakukan di Filipina. Dikatakan bahwa Mary Jane merupakan korban human trafficking,” ucap Jaksa Agung.

Sementara, Jokowi mengatakan Duterte mempersilakan Indonesia mengeksekusi mati Mary Jane.

“Presiden Duterte saat itu menyampaikan silakan kalau memang mau dieksekusi,” kata Jokowi di Serang, Banten, Senin.

Menurut dia, vonis hukuman mati kepada Mary Jane sudah inkracht atau berkekuatan hukum tetap dengan diperkuat oleh putusan Mahkamah Agung (MA). Bahkan, Mary Jane sempat dalam masuk daftar 10 terpidana mati yang dieksekusi pada jilid II lalu.

Namun, Kejaksaan Agung masih berusaha memenuhi hak Mary Jane. Kejaksaan Agung juga menghormati proses hukum yang dilakukan pihak Filipina.

“Semua hak hukum sudah diberikan. Bahwa sekarang ini masih belum dieksekusi karena kami masih menghormati dan menghargai proses hukum yang dilakukan di Filipina. Dikatakan bahwa Mary Jane merupakan korban human trafficking,” ucap dia.

Terjebak dalam bisnis narkoba menjadi hal yang paling disesali sosok Mary Jane Veloso. Terlebih, perempuan kelahiran 10 Januari 1985 itu mengaku menjadi korban dalam bisnis tersebut.

Mary Jane dua kali lolos dari pelaksanaan eksekusi mati. Namun, Jaksa Agung Muhammad Prasetyo berjanji tidak akan pandang bulu dalam hal ini. Terlebih, Jokowi menitahkan perlawanan terhadap narkoba.

Oleh karena itu, beberapa waktu lalu, dia meminta otoritas penegak hukum di Filipina segera menyelesaikan proses hukum terhadap terpidana mati Mary Jane Fiesta Veloso. Semakin cepat proses hukum, Mary Jane akan cepat mendapat kepastian hukum.

“Kami hanya mengharapkan untuk pihak Filipina, segera dan secepatnya menyelesaikan proses hukum di sana. Supaya segera ada kepastian, karena setiap perkara harus ada akhirnya. Enggak mungkin kami katung-katung terus,” kata Prasetyo di Gedung Badan Diklat Kejaksaan, Ragunan, Jakarta Selatan, Jumat September 2016.

Air mata pun terus tumpah sebagai tanda penyesalan. Seperti yang diperlihatkan Mary Jane saat dijenguk petinju kenamaan asal Filipina, Manny Pacquaio.

Begitu pula saat dia menghadiri sidang pemeriksaan permohonan Peninjauan Kembali (PK) di Pengadilan Negeri Sleman, Yogyakarta, 4 Maret 2015.

 

Setnov Apresiasi Sikap Duterte Izinkan Mary Jane untuk Dieksekusi | PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Jakarta STC

Terkait keputusan Duterte untuk mempersilahkan warga negaranya dieksekusi merupakan bentuk hormat Duterte kepada hukum yang berlaku di Indonesia. Terkait hal itu, ketua Partai Golkar, Setya Novanto memuji Duterte. Selain itu politikus yang akrab disapa Setnov itu juga mengapresiasi mampu meyakinkan Rodrigo Duterte yang dikenal sangat keras apalagi terkait kepentingan rakyat dan bangsanya. Duterte menjadikan sehingga Indonesia sebagai kunjungan pertamanya ke negara-negara di dunia usai terpilih menjadi Presiden Filipina.

Presiden Filipina, Rodrigo Duterte mengizinkan Pemerintah Indonesia untuk melaksanakan eksekusi hukuman mati terhadap terpidana mati kasus narkoba Mary Jane Veloso. Izin diberikan usai Duterte berdialog dengan Presiden Joko Widodo.

Menurut Setnov, sebenarnya,Duterte akan meminta pengampunan langsung kepada Presiden Jokowi “dengan cara paling terhormat dan sopan” demi menyelamatkan Mary Jane, dengan alasan di detik-detik terakhir eksekusi di Nusakambangan akhir April lalu, telah ditemukan fakta baru dalam kasusnya. Namun Jokowi mampu meluluhkan kerasnya hati Rodrigo Duterte, bahkan mempersilakan salah satu warga Negaranya tersebut untuk di eksekusi atas kejahatan yang dilakukannya.

Maka dengan demikian, mantan ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia seluruh rakyat Indonesia untuk selalu waspada dan bersama-sama berperang melawan kejahatan narkoba. Karena narkoba dapat sangat merusak terutama bagi generasi muda Bangsa Indonesia, sehingga kejahatan Narkoba memerlukan langkah ekstra ordinary dan dukungan kita semua untuk mengatasinya, termasuk memberikan hukuman berat bagi siapapun yang terlibat didalamnya.

Maka dari itu, Setnov, sangat mengapresiasi Presiden Jokowi yang “menyelesaikan masalah tanpa masalah” dalam persoalan ini, sehingga hubungan antara Indonesia dengan Filipina tetap hangat dan saya dengar Presiden terpilih Filipina tersebut menyatakan jika Indonesia adalah sahabat paling strategies di ASEAN.

“Saya juga mengapresiasi Presiden Rodrigo Duterte karena dapat memahami dan menghormati kedaulatan hukum Indonesia.” Kata Setnov seperti dalam rilisnya, Selasa (13/9).

 

PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Jakarta STC


TAGS   news / nasional / narkoba /


Author

Recent Post

Recent Comments

Categories

Archive